ODYSSEY OF LIFE ....

ODYSSEY OF LIFE ....

Memang harus demikian

Memang harus demikian. Magnitude perubahan harus terjadi. Tiba-tiba teringat teori yang pernah ku baca (teori chaos, even i m not keen on that). Hanya saja kali ini aku hanya ingin pahami dalam konteks sederhana hidupku. Yang ku  pahami chaos adalah sistem yang memiliki ketergantungan yang sangat peka terhadap kondisi awal. Hanya sedikit perubahan pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis seluruh kelakuan sistem tersebut. Dia berawal dari ketidaksimetrisan, ketidakberaturan, kekacauan suatu hal yang kemudian melahirkan suatu pola yang teratur dan pola yang berulang. 

Sebuah kekacauan kecil, yang mampu membangun efek besar dan melahirkan pola baru dari keteraturan yang sudah ada sebelumnya. Pada cerita sederhana hidupku paling akhir , ku anggap dan ku terima (terlepas benar-tidaknya, I m just a dhoif creature) sebagai chaos. Seorang teman pernah berkata pada ku, sebenarnya kehidupan manusia memiliki siklus lingkaran yang berputar dan berulang. 

Awalnya ku anggap sebuah kejadian besar (yang tidak mengenakkan) dalam hidup sebagai bencana atau musibah. Namun 4 hari tugas luar dari kantor ku gunakan  sisanya untuk duduk berlama-lama di pinggir hutan Kasiman Bojonegoro, untuk berpikir dan merenung. Hamparan pohon jati yang luas, rerumputan, ranting pohon yang begitu banyak, bentuk daun jati yeng beragam, jajaran gugusan awan dalam beragam bentuk membuat ku berpikir pada siklus cerita kehidupan manusia, berbagai cerita dan kejadian yang berbeda-beda pasti pernah terjadi dalam kehidupan seseorang. Seperti nya acak, namun sebenarnya kadang ada beberapa cerita atau kejadian tersebut berpola. Atau meminjam istilah teman saya "ada siklus nya", karena dia mempelajari (terobsesi tepatnya) pada numerologi, melihat siklus hidup manusia dengan perhitungan angka-angka (saya tidak paham betul). Intinya siklus kehidupan manusia ada polanya, walau kadang kita rasakan hidup ini naik turun seperti rail-coaster atau naik sumber kencono yang kecepatan nya tak menentu (he he, i love SK)

Kembali ke chaos tadi, sebuah perubahan kecil terjadi bisa membuat perubahan besar pada seluruh sistem setelahnya, begitu pula pada cerita ku, harus ada chaos untuk merubah sesuatu yang sudah teratur. Sebuah Aha momemt (hentakan kecil) harus ada atau sengaja di ciptakan sebagai chaos, untuk merubah segala sesuatu (mungkin dalam besaran yang masif). Karena dengan chaos sesuatu perubahan akan terjadi. Sederhananya saya  memahami semampu saya (i m just stupid person), bahwa dalam proses hidup  keseluruhan kadang menuntut keadaan-keadaan yang  jauh lebih sulit dan kompleks, dan ketika di hubungkan dengan siklus ku, maka harus ada chaos untuk menuju pola baru, keteraturan baru untuk bisa menghadapi proses hidup yang semakin kompleks tersebut. Karena mungkin jika tidak ada chaos tadi, berarti pola baru belum terbentuk untukku.

Yes. I know. Dan, maaf mungkin ini yang harus terjadi.
Ku hanya ingin ber-khusnudzon, chaos kali ini akan membawa pada kehidupan yang lebih baik.

    Yes hey you I know and You will  know someday.  Nia 2011
baca selengkapnya >> Memang harus demikian

Etika dalam Liberalisasi Ekonomi

Etika dalam Liberalisasi Ekonomi

achsania 2011

Dalam hubungan ekonomi internasional, saat ini kecenderungan dunia mengarah pada liberalisasi ekonomi, ekonomi pasar, atau pasar persaingan bebas. Dalam  pandangan murni penganut faham ini, diasumsikan mekanisme pasar akan dapat menyelesaikan semua persoalan ekonomi, sehingga perekonomian akan menuju pada keseimbangan (equilibrium). Dengan situasi yang demikian, tidak perlu dibuat berbagai aturan di pasar, termasuk etika ekonomi/bisnis, karena akan terdapat kekuatan-kekuatan yang tak nampak yang mendorong terjadinya proses keseimbangan di pasar (market) .  Kemudian pertanyaan mendasar yang muncul adalah bagaimanakah peran etikadalam pasar bebas? Berkaitan dengan prinsip ekonomi yang sesuai dengan Islam muncul pertanyaan bagaimana  harus mensikapi praktik globalisasi.

George W.Bush mengatakan : “..The concept of ‘free trade’ arose as a moral principle even before it became a pillar of economics. If you can make something that  other value, ypu should be able to sell it to them. If other make something that you value, you should be able to buy it. This is a real freedom, the freedom for a person – or a nation – to make a living…”

Menurut ekonomi kapitalis (klasik) , pasar memainkan peranan yang sangat penting dalam sistem perekonomian. Ekonomi kapitalis menghendaki pasar bebas untuk menyelesaikan  permasalahan ekonomi, mulai dari produksi, konsumsi sampai distribusi. Semboyan kapitalis adalah lassez faire et laissez le monde va de lui meme   (Biarkan ia berbuat dan biarkan ia berjalan, dunia akan mengurus diri sendiri). Pengertian dari semboyan tersebut adalah biarkan sajalah perekonomian berjalan dengan wajar tanpa intervensi pemerintah, nanti akan ada suatu tangan tak terlihat (invisible hands) yang akan membawa perekonomian tersebut ke arah equilibrium. Jika banyak campur tangan pemerintah , maka pasar akan mengalami distorsi yang akan membawa perekonomian pada ketidakefisienan (inefisiency) dan ketidakseimbangan.
Menurut konsep tersebut, pasar yang paling baik adalah persaingan bebas (free competition), sedangkan harga dibentuk oleh oleh kaedah supply and demand. Prinsip pasar bebas  akan menghasilkan equilibrium dalam masyarakat, di mana nantinya akan menghasilkan  upah (wage) yang adil, harga barang (price)  yang stabil dan kondisi tingkat pengangguran yang rendah (full employment). Untuk itu peranan negara dalam ekonomi sama sekali  harus diminimalisir, sebab kalau negara  turun campur bermain dalam ekonomi hanya akan menyingkirkan sektor swasta sehingga akhirnya mengganggu equilibrium pasar. Maka dalam paradigma kapitalisme, mekanisme pasar diyakini akan menghasilkan suatu keputusan yang adil dan arif dari berbagai kepentingan yang bertemu di pasar.  Para pendukung paradigma pasar bebas telah melakukan berbagai upaya akademis untuk meyakinkan bahwa pasar adalah sebuah sistem yang mandiri (self regulating), mekanisme yang dapat mengatur dirinya sendiri, tanpa pengaturan melalui peraturan atau bentuk intevensi-intervensi lainnya.
Free competition , Free market dianggap sebagai mekanisme pasar yang ”sempurna”  tidak terlepas dari asumsi-asumsi dasar atau mitos-mitos kapitalisme Smithian, yaitu bahwa : 1) Kebutuhan manusia tidak terbatas; 2) Sumber-sumber ekonomi yang relatif terbatas; 3) pengejaran akan pemenuhan maksimal kebutuhan individu (utility maximization of self-interest) yang relatif tak terbatas.  Kemudian konsekuensi tiga landasan asumsi ini berkelanjutan dengan suatu anggapan bahwa akhlak  dasar manusia  adalah bertarung dan saling berebut, yang melahirkan gagasan tentang berlakunya perfect individual liberty . Landasan asumsi tersebut  menurut Thurow   merupakan asumsi dasar yang kelewat simplistik, bahwa manusia  rasional adalah manusia yang berdasar inisiatif individunya mengejar utilitas ekonomi optimal, yang mencari maximum gain dan minimum sacrifice, dimana ia bersaing dalam mekanisme pasar, yang menjadi aktor bebas di pasar bebas dan berpedoman pada individual freedom of action atau kebebasan bertindak.

Kritik terhadap teori Adam Smith sebenarnya telah disampaikan oleh Hatta    perihal self-intrested sebagai berikut: ...teori Adam Smith berdasar kepada perumpamaan homo economicus, yakni mahluk ekonomi, yang mengetahui kedudukan pasar, yang pandai berhitung secara ekonomi dan rasional, dapat menimbang sendiri apa yang beruntung bagi dia dan apa yang merugikan dan kemudian ia sama kuat dan sama paham dengan lawannya. Akan tetapi mahluk  ekonomi seperti lukisan ini hanya ada  dalam dunia pikiran, sebagai dasar bekerja bagi penyelidik  ilmu, dan tidak ada dalam masyarakat yang lahir, yang menyatakan satu golongan kecil yang aktif dan bermodal cukup, yang memutuskan segala soal ekonomi; dan satu golongan besar, orang banyak yang pasif dan lambat, yang tiada mempunyai tenaga ekonomi; yang penghidupannya terserah kepada keputusan golongan yang pertama... sebab itu dalam praktik laisser stelsel- persaingan merdeka dll- tidak bersua maksimum kemakmuran yang diutamakan oleh Adam Smith, ia memperbesar mana yang kuat, menghancurkan mana yang lemah...”.

Perkembangan ilmu ekonomi yang makin meninggalkan etika dimulai oleh David Ricardo (1817) yang mengenalkan ilmu ekonomi “a priori” yang abstrak, dan mengajarkan ilmu ekonomi yang seakan-akan tidak ada hubungannya dengan manusia (depersonalized). Manusia diubah menjadi “model” abstrak homo-economicus, yang sangat mudah dianalisis dengan menggunakan model-model matematika. Model “homo-economicus” yang menonjolkan self-interest atau “keserakahan manusia atas alam benda”, bertentangan dengan ajaran berbagai agama, karena dalam agama selalu diajarkan “rezeki yang berlimpah” (abundance) yang diberikan Allah kepada manusia. Mereka bersikukuh bahwa sistem pasar bebas adalah objektif-ilmiah dan “bebas dari ideologi”, tanpa menyadari bahwa kepercayaan yang terlalu besar dan “membabi buta” terhadap kemampuan pasar untuk memecahkan segala konflik juga merupakan ideologi tersendiri. Inilah yang kelak disebut fundamentalisme pasar yang mengira pasar selalu akan mampu memecahkan dan mengubah disharmoni menjadi harmoni. Bahkan kepercayaan bahwa pasar adalah bebas nilai (value free) jelas merupakan ideologi sendiri.

Namun asumsi-asumsi yang melandasi free competition, liberalisasi ekonomi  tidak sesuai dengan realitas sesungguhnya. Sebuah persaingan yang benar-benar atau sehat akan terjadi jika pihak-pihak didalamnya memiliki kekuatan yang seimbang yaitu kepemilikan modal dan kapital, keahlian, kemampuan teknologi, kepemilikan informasi yang sama terhadap pasar (tidak asimetris informasi).  Ketika seluruh dunia boarderless, yang mengakibatkan setiap entitas bisnis diseluruh dunia berhadapan bersaing satu sama lain, walaupun tidak sesuai dengan asumsi persaingan diatas, karena tidak semua pihak yang bersaing memiliki kekuatan seimbang dengan pihak lainnya. Etzioni  bahkan mengatakan persaingan pasar sempurna tidaklah empirik, karena bagaimanapun  dalam konteks persaingan untuk mendapatkan pemenang  kekuasaan (power) adalah bawaan manusia, maka monopoli adalah ’the rule”. Dan mekanisme pasar bebas adalah persaingan untuk mendapatkan pemenang.  Robert Frank dan Philip J.Cook  menyebutkan mekanisme pasar bebas hanya akan melahirkan pemenang, dimana pasar ini telah membuat disparitas yang jelas antara si kaya dan si miskin. Pasar ini menciptakan orang-orang yang paling berkeahlian/berbakat hingga orang-orang yang secara sosial tidak produktif, bahkan juga orang-orang yang sifatnya destruktif.  Pada ekonomi yang yang sifatnya berinvestasi   untuk masa depan, orang-orang tersebut telah didorong menjadi tipe yang tidak berguna untuk kegiatan investasi dan konsumsi.

Bahkan mekanisme Open Market dianggap telah mereduksi manusia sebagai sumber daya insani menjadi sumber daya manusia atau faktor produksi ekonomi belaka.  Mekanisme pasar bebas adalah mekanisme persaingan atau “ekonomi peperangan” (free fight), dimana para pelaku didalamya adalah homo economicus yaitu mahluk yang bertujuan mendapatkan manfaat ekonomi sebanyak-banyak dan maksimalisasi profit, dengan cara yang seefisien mungkin (baca dalam cara apapun asal menurunkan biaya produksi, motif profit oriented- mendorong ekonomi untuk memperoleh keluaran efisien) tanpa mengindahkan pihak-pihak  yang lemah, pihak-pihak yang tersubordinasi. Mekanisme persaingan adalah mekanisme yang akan saling menyerang untuk menjatuhkan satu sama lain untuk menentukan pemenang yang kemudian akan menjadi pihak dominan The-Winner-Take-All Society.

Amartya Sen  mengemukakan kenyataan  bahwa ilmu ekonomi telah  berkembang, yang dibentuk oleh motivasi manusia namun dalam pandangan yang sempit. Ilmu ekonomi  seharusnya menekankan pada “real people” , dan hal tersebut tidak berdampak sepenuhnya melalui “self-examination” yang menjawab pertanyaan Socrates : bagaimana selayaknya manusia hidup (How should one live?). Aristoteles menghubungkan subjek ekonomi dengan kebutuhan akhir manusia , yaitu kemakmuran (wealth).  Namun penekanan kemakmuran disini lebih dari hanya sekedar money-making yang dipandang sebagai tindakan kompulsif semata. 
Dalam pandangan Sen  terdapat dua  Isu sentral sebagai landasan ilmu ekonomi yaitu:
1.   The ethics-related view of motivations. Berkaitan dengan masalah motivasi manusia sehubungan untuk menjawab pertanyaan etika : “ Bagaimana selayaknya seseorang hidup”? (How should one live?). Penekanannya pada bahwa pertimbangan-pertimbangan etika tidak secara keseluruhan tidak berkait dengan perilaku aktual manusia. Pendekatan–engineering- , dikarakteristikan berkait secara utama pada  isu logistik dibanding dengan  tujuan akhir dan menjawab pertanyaan terkait dengan “the good for man” atau : How should one live”. Turunan pendekatan ini lebih banyak pada penekanan masalah-masalah teknik berkait dengan ilmu ekonomi, khususnya berkait dengan fungsi pasar.
2.    The ethics-related view of social achievement. Aristoteles mengemukakan  pada tujuan akhir dari pencapaian pada tujuan terbaik untuk manusia “the good for man”, yang kemudian lebih ditekankan pada pencapaian tujuan terbaik bagi Negara atau masyarakat. Dan hal ini akan mendasari ilmu ekonomi modern.

Namun sekali yang terjadi adalah Pengindahkan pendekatan etika , dikarenakan perhatian lebih ditujukan hal-hal yang terkait dengan ilmu ekonomi logistik , pencarian efisiensi, walaupun dalam fomat pandangan yang dibangun atas konstruk motivasi dan perilaku manusia yang bersifat non-etika. Sen  menambahkan terjadi pemarginalan asumsi terkait dengan self-interested behavior dalam ilmu ekonomi telah menghalangi analisa-anliasa hubungan antara ilmu ekonomi dan etika. Teori ekonomi mainstream, bagaimanani  telah mengidentifikasikan rasionalitas perilaku manusia dengan konsistensi internal atas pilihan dan lebih jauh lagi dengan maksimalisasi kepentingan pribadi.  Namun Sen mencatat pula bahwa tidak ada bukti yang mengatakan bahwa  maksimalisasi kepentingan pribadi akan menghasilkan pencapaian terbaik pada konsidi ekonomi optimal.

 Peran Etika
Sebenarnya  peran etika dalam aktivitas ekonomi telah dibahas jauh hari, tesis Max Weber yang dipublikasikan dalam buku “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism” menjelaskan bahwa  “Etika Protestan” dan hubungannya dengan “semangat kapitalisme” ( berkaitan dengan aktivitas ekonomi manusia). Berdasarkan penelitian Weber di  kalangan Protestan sekte Calvinis, kerja keras adalah suatu keharusan bagi setiap manusia untuk mencapai kesejahteraan. Kerja keras adalah panggilan rohani untuk mencapai kesempurnaan hidup, sehingga mereka dapat hidup lebih baik secara ekonomi. 
 Kemudian Wilson   pada studinya dalam bukunya “Economics, Ethics and Religion: Jewish, Christian and Muslim Economics Thought “menjabarkan mengenai sebenarnya aktivitas ekonomi yang dilakukan manusia  tidak dapat dipisahkan dari konsepsi etika, dan etika telah diposisikan dalam semua ajaran agama yang ada. Pada tiga agama besar ini terdapat kesamaan yaitu bahwa terdapat hubungan yang erat antara aktivitas manusia dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari dengan konsepsi imbalan dan balasan. Kemudian juga bahwa dalam ketiga agama besar ini mendenisikan kembali rasionalitas aktivitas –aktivitas manusia asalah satunya aktivitas ekonomi adalah bertujuan berketuhanan. Bahwa keberadaan manusia sebagai mahluk ekonomi tidak dibatasai oleh kegiatan manusia dalam pemenuhan kesejahteraan mereka sendiri, namun terdapat kesadaran bahwa kepemilikan sesuatu di dunia bersifat hanya sementara saja, kemudian terdapat penekanan bahwa terdapat hak sosial dari setiap kepemilikan dari manusia , yaitu bahwa ada ada hak orang miskin pada harta orang kaya .

Konteks etika dalam Bisnis
Dawam Rahardjo  mengatakan  etika bisnis beroperasi pada tiga tingkat, yaitu; individual, organisasi, dan sistem. Pada tingkat individual, etika bisnis mempengaruhi  pengambilan keputusan seseorang, atas tanggungjawab pribadinya dan kesadaran sendir. Pada tingkat organisasi, seseorang sudah terikat kepada kebijakan perusahaan  dan persepsi perusahaan tentang tanggungjawab sosialnya. Pada tingkat sistem, seseorang menjalankan kewajiban atau tindakan berdasarkan sistem etika tertentu. Realitasnya, para pelaku bisnis sering tidak mengindahkan etika. Nilai moral yang selaras dengan etika bisnis, misalnya toleransi, kesetiaan, kepercayaan, persamaan, emosi atau religiusitas hanya dipegang oleh pelaku bisnis yang kurang berhasil dalam berbisnis. Sementara para pelaku bisnis yang sukses memegang prinsip-prinsip bisnis yang tidak bermoral, misalnya maksimalisasi laba, agresivitas, individualitas, semangat persaingan, dan manajemen konflik . Dikemukakan juga bahwa dalam bisnis itu pada dasarnya berasaskan ketamakan, keserakahan, dan semata-mata berpedoman kepada pencarian laba. 

Etika dalam Islam:

Telah dijabarkan sebelumnya bahwa dalam semua agama besar  etika  tidak dapat dipisahkan dengan dalam  tindakan-tindakan /aktivitas-aktivitas manusia dalam seluruh sendi kehidupan.

Umar Chapra mendefinisikan ” ekonomi islam sebagai suatu cabang pengetahuan yang membantu merealisasikan kesejahteraan manusia melalui suatu alokasi dan distribusi sumber-sumber daya langka yang seirama dangan maqasid, tanpa mengekang kebebasan individu, menciptakan ketidakseimbangan makro ekonomi dan ekologi yang berkepanjangan, atau melemahkan solidaritas keluarga dan sosial serta jaringan moral masyarakat”  Dalam penerapan ekonomi islam terdapat tiga pilar utama yang meliuti:
1) Keadilan; Apabila keadilan ini tidak dijadikan tujuan pembangunan sistem ekonomi maka sangat mustahil masyarakat ideal dapat ditegakkan; 2) Keseimbangan ; Ekonomi keseimbangan sendiri merupakan pandangan islam terhadap hak individu dan masyarakat yang diletakkan dalam neraca yang adil . dalam praktiknya ekonomi islam ini menerapkan keseimbangan antara modal dan usaha, antara produksi dan konsumsi antara produsen perantara dengan konsumen dan antara golongan-golongan dalam masyarakat; 3) Ukhuwwah  yang meletakkan tata hubungan bisnis dalam konteks persaudaraan universal untuk mencapai kesuksesan bersama.   
Dan prinsip-prinsip tersebut menurunkan landasan  etika (akhlaq) entitas ekonomi dalam beraktivitas ekonomi dalam Islam. Oleh karena itu, sebuah sistem ekonomi yang berlandaskan nilai Islam perlu di ejawantahkan dalam aktivitas ekonomi yang telah di contohkan oleh Rasulullah Saw dalam aktivitas bisnisnya yaitu terdiri dari :

1.     Kejujuran.
Sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang, baik harta, ilmu pengetahuan, dan hal-hal yang bersifat rahasia yang wajib diperlihara atau disampaikan kepada yang berhak menerima, harus disampaikan apa adanya tidak dikurangi atau ditambah-tambahi

يأيها الذين امنوا اتقوا الله وكونوا مع الصادقين #
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan
hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur”
(Q.S. al-Taubah: 119)

2.     Keadilan
Islam sangat mengajurkan untuk berbuat adil dalam berbisnis, dan melarang berbuat curang atau berlaku dzalim. Rasulullah diutus Allah untuk membangun keadilan.   Kecurangan dalam berbisnis pertanda kehancuran bisnis tersebut, karena kunci keberhasilan bisnis adalah kepercayaan. Al-Qur’an memerintahkan kepada kaum muslimin untuk menimbang dan mengukur dengan cara yang benar dan jangan sampai melakukan kecurangan dalam bentuk pengurangan takaran dan timbangan.
واوفوا الكيل اذا كلتم وزنوا بالقسطاس المستقيم ذالك خير وأحسن تأويلا
 (الإسراء:35)
“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah
dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama
(bagimu) dan lebih baik akibatnya”.
(Q.S. al-Isra’: 35)

3. Barang atau produk yang dijual haruslah barang yang halal, baik dari segi dzatnya maupun cara mendapatkannya. Berbisnis dalam Islam boleh dengan siapapun dengan tidak melihat agama dan keyakinan dari mitra bisnisnya, karena ini persoalan mu’amalah dunyawiyah, yang penting barangnya halal. Halal dan haram adalah persoalan prinsipil. Tidak Ada Unsur Penipuan atau al-tadlis / al-ghabn sangat dibenci oleh Islam, karena hanya akan merugikan orang lain, dan sesungguhnya juga merugikan dirinya sendiri.

 Berdasarkan paparan diatas, kesadaran bahwa menjunjung tinggi etika dalam aktivitas ekonomi mulai harus ditanamkan dan dijadikan acuan secara mikro oleh setiap personal, namun secara makro, adalah pemerintah sebagai  Oleh karena itu berdasarkan prinsip ekonomi Islam diatas pemerintah memiliki peran besar dalam membangun kebijakan-kebijakan yang berkeadilan yaitu membebaskan individual untuk bebas berusaha , dan ditekankan seluas-luasnya untuk kesejahteraan rakyat misalnya kebijakan fiskal tanpa meninggalkan fungsi distributifnya, kebijakan publik yang lebih berfokus pada pemenuhan basic human needs, dimana pengadaan market good  dan privat good (kesehatan, pendidikan, peningkatan SDM, pengembangan Iptek dll) harus lebih banyak diserahkan kepada swasta melalui mekanisme pasar, hanya saja untuk mencegah distorsi pemerintah harus meletakkan Undang-undang dan peraturan, dan melibatkan lembaga hisbah untuk menjaga kepentingan masyarakat dan mencegah tindakan yang tidak adil oleh pemerintah sebagai pengembang amanah “hak” dari Allah. Peran pemerintah tidak tereduksi oleh mekanisme pasar, yang membatasi intervensi pemerintah terhadap pasar. 
Pemerintah bertanggung jawab menciptakan iklim dimana korporasi-korporasi besar melaksanakan tanggung jawab social (Corporate Social Responsibilty), atau setidak-tidaknya harus membayar external diseconomies yang ditimbulkan. Kemudian kebijakan untuk mendorong pembentukan-pembentukan unit-unit usaha yang bersifat kerjasama dan kekeluargaan (sesuai dengan prinsip ukhuwah), yaitu dengan membrikan iklim dan insentif terhadap perwujudan kelembagaan ekonomi di tingkat mikro.
Dalam menghadapi modernisasi dan globalisasi  dimana akan ada proses transformasi dari unit-unit skala bisnis kepada unit skala besar atau menengah yang lebih mampu merespon pasar, timbulnya usaha kecil mikro/rumah tangga yang modern, dimana kecenderungan ini akan mendukung kebutuhan fiskal, dan peranan pemerintah akan semakin besar karena semakin meningkatnya pengaturan . Dalam konteks ekonomi Islam , peran pemerintah pada umumnya cenderung ditempatkan pada peranan aktif, baik dalam penerapan undang-undang, mengendalikan ekonomi kearah perkembangan ekonomi yang lebih stabil, mencegah pengangguran, dan kemerosotan daya beli masyarakat dan melibatkan usaha redistribusi  pendapatan dan kekayaan (pajak, zakat, dll)  sehingga tidak timbul kepincangan dan ketidakadilan.
   
referensi:
Al Qur'an 

Sri Edi-Swasono, Ekspose Ekonomika: Mewaspadai Globalisme dan Pasar Bebas, (Pusat Studi Ekonomi Pancasila-UGM, 2008). 
Adam Smith (1723-1790) dengan bukunya An Inquiry into the Nature and Causes of The Wealth of Nations, New Rochelle,, N.Y : Arlington House, 1966.
 

Lester.C.Thurow, The Dangerous Currents: The State of Economics (New York : Random  House, 1983) p.218

Muhammad  Hatta,  Krisis Ekonomi dan  Kapitalisme (Batavia-C.: Soetan lembaq Toah & Fa, 1935  hal 78 )
Amitai Etzioni, The Moral Dimension: Toward A New Economics (New York: The Free Press, 1988)

Amartya Sen, On Ethics & Economics (Basil Blackwell, 1987) hal 1-3 
Robert Frank dan Philip J. Cook: The Winner-Take-All Society. New York: Martin Kessler Books at The Free Press 1995.

Mubyarto dkk.1991. Etos Kerja dan Kohesi Sosial. Yogyakarta: Aditya Media.

Rodney Wilson, Economics, Ethics and Religion: Jewish, Christian and Muslim Economics Thought (New York, New York University Press, 1997).   

Dawam Raharjo, “Etika Bisnis Menghadapi Globalisasi dalam PJP II  (Prisma, No. 2. Jakara: LP3ES) hal 13.

M.Umer Chapra, The Future of Economic: An Islam Perspective (The Islamic Foundation, 2000). hal 121
baca selengkapnya >> Etika dalam Liberalisasi Ekonomi

cloud





What a precious moment
When I have chance to see
The pavilion of heaven is bare....



captured @jipang-panolan cepu 2011
                          
                                          
baca selengkapnya >> cloud

Indonesian food still great food...#3

                                                             Sate kambing Blora



 Tongseng pedes Blora


                                            sego lawuh macem-macem depan pasar bringharjo


                                                                   penyet lele kertosono
baca selengkapnya >> Indonesian food still great food...#3

ancient mosque : masjid tiban








Masjid Tiban, menjadi bangunan masjid tertua di Kabupaten Wonogiri. Letaknya sekitar 40 kilometer arah selatan ibukota Kabupaten Wonogiri. Masjid yang didirikan para wali ini, keberadaannya diyakini lebih tua dibandingkan dengan Masjid Agung Demak. Sebab, lebih  dulu ada sebelum masjid legendaris karya para wali di Demak dibangun.Konon, Masjid Tiban Wonokerso, dijadikan maket sebelum menentukan bentuk, wujud, dan prototipe bangunan Majid Agung Demak. Dalam buku Sekitar Wali Sanga, karya Solichin Salam (penerbit Menara Kudus), ada beberapa versi tentang tanggal dan tahun pendirian Masjid Demak. Ada yang menyakini dibangun Kamis Kliwon malam Jumat Legi tanggal 1 Dulqoidah tahun Jawa 1428. Versi lain menyebutkan, dibangun tahun Saka 1388 sesuai dengan candrasengkala ‘Naga Salira Wani’, serta sesuai gambar petir di pintu tengahnya. Pendapat lain menyebutkan, itu didirikan pada tahun Saka 1410, berdasarkan gambar bulus di dalam masjid.

Jauh waktu sebelum pendirian Masjid Demak, Masjid Tiban Wonokerso telah lebih dulu ada. Menurut legenda, masjid itu ditemukan pertama kali oleh Ki Ageng Tugu (Tuhu) Wono, tatkala membuka rimba diwilayah Sembuyan (Wonogiri selatan), untuk dijadikan tanah perdikan.Waktu itu, Kiai Ageng Tuhu Wono, dibantu Kia Ageng Serang dan Kiai Gozali, beserta para pengikutnya. Betapa takjub, ketika membuka rimba Sembuyan, ditemukan masjid model rumah panggung terbuat dari kayu jati. Penemuan yang tiba-tiba ini, menjadikan masjid itu kemudian dinamakan Masjid Tiban (tiba-tiba ada).

Pembangun Masjid
Siapa yang membangun? Menurut legenda, itu dibangun oleh para wali, tatkala mengembara dalam rangka melaksanakan tugas Raja Demak Bintoro, untuk mencari kayu jati pilihan sebagai bahan baku saka guru (tiang induk) Masjid Agung Demak. Konon, para wali singgah di rimba Sembuyan dan sempat membuat masjid itu.Namun ketika di rimba Sembuyan tak ditemukan kayu jati pilihan, para wali meneruskan perjalanannya menuju ke wilayah Keduwang dan menemukan hutan jati Donoloyo, yang pohonnya dinilai layak dipakai untuk membangun masjid Demak. Sejak ditinggalkan, lambat laun masjid tiban ditelan rimba Sembuyan, dan baru ditemukan lagi oleh Ki Ageng Tuhu Wono.

(sumber /dachrie.wordpress.com)

"maknai perjalanan mu bukan hanya di nikmati, pemaknaan itu milik orang yang mau berpikir" (adorable prof. siz). 

Perjalanan yang lumayan jauh dari tengah jogja menuju wonogiri, melewati  dari kejauhan waduk gajah mungkur yang indah. Letaknya di dataran tinggi di tengah perkampungan kecil yang dikelilingi hutan jati kering. Tiba di sana, ketika matahari ada tepat di tengah langit, panas dan kering..... Kesan bangunan kayu coklat tua dan usang menyapa, biasa awalnya. Bangunan masjid kuno itu tersambung dengan bangunan masjid baru yang di gunakan untuk keseharian untuk jamaah kampung tersebut. Namun begitu pintu kayu kuno sebagai pintu memasuki masjid terbuka, hawa panas dan kering mencekat tiba-tiba tiada, hanya dingin dan tenang menjadi definisi penggantinya.

Berceritalah pak penunggu masjid mengenai sejarah masjid ini, ratusan tahun masjid ini masih berdiri kokoh dalam bentuk aslinya, bahkan mimbar nya. Tergidik dalam perasaan tak menentu membayangkan ratusan tahun yang lalu Sunan Kalijaga sendiri berada di sini memimpin pencarian kayu.  

Banyak hal yang memenggetarkan, namun pengalaman magis - spiritual tersebut  biarlah menjadi hal  dialektika personal ku sendiri. Picking point-nya bahwa dalam perjalanan materi ini, karena perjalanan tersebut memindahkan materi fisik ku dari jogja ke tempat ini, akan selalu di sertai perjalanan immateri yang taken for granted. Terus ku berpikir, kesempatan menuju tempat ini ku peroleh as a gift dari prof siz, prof sri-edy yang kemudian membawaku pada eskalasi ruang-ruang fikir di benakku.., ketika common knowledge mengatakan masjid tertua adalah masjid demak, sebagai pusat penyebaran Islam di babad Jawa ini, namun pusat kosmos besar sejarah masjid demak tersebut memiliki awal, memiliki red line menuju suatu titik yang lebih awal. 

Tahap pemaknaan ku terus berlanjut dan berkecamuk hebat..start for mind traveling.....
nia 2010




baca selengkapnya >> ancient mosque : masjid tiban

rumah pohon



 




@prigen
baca selengkapnya >> rumah pohon

Lodged

 Robert Frost

The rain to the wind said,
“You push and I’ll pelt”.
The smote the garden bed
That the flowers actually knelt,
And lay lodged – thought not dead,
I know how the flowers felt

Hujan bilang kepada angin, kamu yang dorong, dan aku akan turun mengguyur. Mereka lantas menerpa kebun. Maka bunga-bunga di kebun merunduk dan berat sarat menampung air – tetapi tidak mati”. 

Sebuah tulisan sederhana "so daily", namun buat ku yang terterpa hujan di setiap pulang kantor tersenyum membacanya. Narasi simple bertutur tentang hujan, yach bukankan setiap hujan turun sang angin pun selalu di sampingnya. Mendorong ke arah mana hujan akan melebar. Seolah bersinergi bersama tiada terpisah. Dan bukankan hujan adalah hadiah bagi setiap tumbuhan dan bunga-bunga. 

Jadi keinget kata-kata I'm only happy when it rain,.... mungkin itu yang dirasakan oleh bunga-bunga indah di muka bumi ini. Cause I feel it too.

Nia 2011.
baca selengkapnya >> Lodged

The failure of neo-liberalism

Richer and poorer
The failure of neo-liberalism
By Phillip Blond
Published: Saturday, February 2, 2008
The New York Times   

         Phillip Blond  memulai artikelnya berkenaan dengan keadaan ekonomi di abad 21 yang semakin terkonsentrat dimana kepemilikan dominan kekayaan hanya ada pada  segelintir orang dan para spekulan (seperti awal abad 19)  Dua kutub ekonomi sistem kanan dan kiri seakan-akan mampu menciptakan suatu masayarakat yang makmur dan terjamin dalam perekonomiannya. Sayap kanan mengklaim free market yang dikatakan akan mensejahterakan seluruh lapisan  masyarakat, ternyata jelas keliru, ketika kesejahteraan yang dicapai bangsa-bangsa eropa di abad 19  dalam melakukan inovasi dan penciptaan kekayaan, menyebabkan  bangsa-bangsa yang miskin dan un-skilled jatuh pada kemiskinan dan tingkat pengangguran yang sangat tinggi. Begitu pula pada era baru yang disebut globalisasi dimana dua ideology diatasa menciptakan fenomena yang sama yaitu: terciptanya  jarak dalam masyarakat, terciptanya masyarakat  underclass/kelas bawah  masyarakat miskin, masyarakat middle class dengan jaminan kehidupan yang lebih baik, hingga masyarakat new rich (kelas kaya baru) yang bebas dan bahkan memegang rules dunia.                                           
        Neo-liberalisme muncul di Inggris dibawah pemerintahan perdana menteri Margareth Thatcher, di Amerika ketika dipimpin Ronald Reagan hingga negara-negara Anglo-Saxon yang mampu mendorong dan membangun konsep pasar bebas yang berlaku hingga sekarang. Bahkan China telah beralih dari ideologi komunisnya dan menuju pada liberalisasi perdagangan. Perancis juga menegaskan supremasi atas pasar liberal dengan memilih pemimpinnya yabng mengagungkan sistem perdagangan dan ekonomi model Anglo-Saxon tersebut. Dalam  ranah pembangunan ekonomi, fundamental pasar bebas telah menjelma menjadi musibah besar, di Rusia  solusi pasar bebas yang diterapkan di Rusia selama masa pemerintahan Yeltsin hanya menciptakan pemiskinan massal, dan menciptakan kelas masyarakat kaya. Begitu pula pada negara-negara Amerika latin dan Afrika, dimana yang awalnya jauh lebih baik kondisinya dibanding negara-negara berkembang lainnya, turun drastis hingga 60% setelah menggunakan bantuan sponsor IMF, dan bahkan sekarang semakin memburuk. Cerita yang hampir sama di 13 negara OECD (Organization for economic cooperation and development) kenaikan gaji bahkan lebih rendah dibanding tingkat inflasi di era 70-an. Bahkan dijelakan Blond bahwa masa keemasan pekerja, yang ditunjukkan pada prosentase atas GDP ada pada era 1943-1973 dan bukan di dalam era liberalisasi ekonomi saat ini. Kisah nyata atas kesuksesan neo-liberalisme tidak hanya pada penambahan asset suatu negara semata, namun lebih jauh adalah semakin besarnya dan meraksasanya ketidak merataan distribusi kekayaan. Amerika antara range waktu 1979-2004 tingkat kemakmuran meningkat tajam hingga 78%, dibanding hampir 80% populasi di dunia mengalami penurunan pada distribusi pendapatan hingga 15%. Hal itu berarti bahwa transfer kekayaan dari populasi mayoritas pada populasi minoritas yang sangat kaya tersebut sebesar $ 644 milyar.                                                 Di Inggris setelah  era Margareth Thatcher, yang dianggap terdapat kegagalan dimana negara semakin terfragmentasi secara sosial dan ekonomi.  Kemudian di era Tony Blair dan Gordon Brown, wacana pemikiran progresif terkait dengan janji atau harapan untuk meningkatkan kemakmuran, melalui usaha-usaha menerapkan perbaikan pada sektor public dan kaum miskin. Problema sosial harus segera dicarikan solusinya melalui perluasan pendidikan dan membuka kesempatan bagi seluruh lapisan masyarakat. Inti dari pemikiran progresif tersebut adalah bagaimana keluar dari lingkaran ilusif neo-liberal untuk menuju pencapaian kemakmuran untuk semua lapisaan. Namun, hingga saat ini belum terlihat dari pencapaian tujuan tersebut, distribusi kekayaan, perumahan, dan  fasilitas krusial lain hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil golongan. Telah terjadi mobilisasi sosial yang sangat buruk sama seperti masa pasca perang dunia.                                          Pada akhir artikelnya Blond mengemukakan bahwa ideologi ekonomi baik kanan atau kiri  tersebut nampaknya tidak mampu mengalahkan monopoli kapitalisme, baik melalui konsep welfarism maupun statism untuk melakukan transformasi kehidupan bagi rakyat miskin, begitu pula neo-liberalisme. Yang ada hanya distribusi ekonomi dari konsep pasar bebas menuju monopoli yang dinginkan pihak-pihak pemilik capital. Ditambahkan Blond mengenai suatu pemikiran radikal dan wacana yang belum dieksplor yaitu distribusi umum dan secara luas atasepemilikan, penggunaan asset, kredit dan capital. Hal tersebut dianggap akan menjadi solusi atas konflik antara pemilik capital dengan pekerja/faktor-faktor produksi melalui pasar yang tidak berlandaskan monopoli dan suatu negara yangf menggaji buruhnya dengan sangat baik.

KOMENTAR: 

          Dalam perjalanan historisnya, umat manusia telah mengalami dua ideologi ekonomi utama dalam kurun dua ratus tahun terakhir, yaitu kapitalisme dan sosialisme. Meskipun terdapat achievement gemilang dan prestasi-prestasi yang mencolok dalam bidang-bidang tertentu, namun ideology ekonomi kanan dan kiri  utama dunia ini dianggap telah gagal memecahkan problem-problem utama ekonomi umat manusia. Landasan fundamental sosialisme dengan tujuan utama sebuah pemerataan ekonomi melalui otoriterisme dan totalitarisme  peran negara dalam penentuan pemerataan keadilan. Sistem sosialis tidak memiliki kontrol efektif baik terhadap komando politik maupun terhadap produksi barang. Akibatnya, sistem yang lahir dari pemikiran Marx ini tidak lentur terhadap perubahan-perubahan yang dituntut oleh perkembangan sejarah serta tidak mampu membawa pada suatu kesejahteraan bersama dan distribusi kekayaan yang adil. Sebenarnya dalam paparannya Blond lebih menekankan berkaitan dengan  kapitalisme, dimana dikatakan olehnya bahwa kerusakan ekonomi  hampir diseluruh negara didunia.Tingginya  tingkat inflasi, ekonomi dunia kembali mengalami resesi yang mendalam, tingkat pengangguran yang parah, ditambah tingginya tingkat suku bunga riil serta fluktuasi nilai tukar yang tidak sehat.Tingkat suku bunga semakin tinggi dan diduga akan terus membumbung, memperkuat kekhawatiran akan gagalnya proses penyembuhan di atas. Krisis tersebut semakin memprihatinkan karena adanya kemiskinan ekstrim di banyak negara, berbagai bentuk ketidakadilan sosio-ekonomi, besarnya defisit neraca pembayaran, dan ketidakmampuan beberapa negara berkembang untuk membayar kembali hutang mereka.               
          Meskipun proses penanggulangan dan penyembuhan dari penyakit-penyakit itu kini sedang berlangsung, namun berbagai ketidakpastian masih saja membayang-bayangi. Tingkat suku bunga semakin tinggi dan diduga akan terus membumbung, memperkuat kekhawatiran akan gagalnya proses penyembuhan di atas. Krisis tersebut semakin memprihatinkan karena adanya kemiskinan ekstrim di banyak negara, berbagai bentuk ketidakadilan sosio-ekonomi, besarnya defisit neraca pembayaran, dan ketidakmampuan beberapa negara berkembang untuk membayar kembali hutang mereka. Kapitalisme yang mekanistik yang ternyata tidak memiliki kekuatan dalam membantu dan mengatasi resesi ekonomi yang melanda dunia.  Mekanisme pasar yang merupakan bentuk dari sistem  yang diterapkan kapitalis cenderung pada pemusatan kekayaan pada kelompok orang tertentu.                        
          Robert Heilbroner  mengemukakan bahwa  sosialisme dan kapitalisme sama-sama gagal mengantarkan meraih kesejahteraan social sekaligus moral. Sosialisme dan kapitalisme sama-sama palsu, imitasi dan sama-sama memenderitakan umat manusia sebanding sejarah umat manusia apalagi dalam periode sejarah masyarakat modern. Kedua-duanya terlalu memboroskan human cost secara tidak manusiawi demi doktrin pemerataan (sosialis) dan pertumbuhan (kapitalis). Kedua-duanya sama-sama berada dalam tepi jurang kehancuran.  Trend Neo-liberalism yang muali dikenalkan  era 80-an, dianggap dan dipercaya  mampu menjawab krisis dunia yang dimulai dari colaps-nya sistem ekonomi domestik Meksiko ketika itu, dimana IMF menerapkan pola obral murah utang baru yang ditukar dengan pengetatan ekonomi yang kita sebut dengan Structural Adjusment Programs (SPAs). Kompetisi pasar bebas (free market competition), demikian titik kulminasi yang diharapkan dari sistem ekonomi Neo-Liberalisme ini, dimana secara faktual hari ini terbukti hanya menguntungkan negara-negara maju, yang pada sisi lain justru kian memiskinkan negara berkembang. Yang menjadi menarik kemudian adalah, fakta terjadinya polarisasi ditingkatan negara-negara maju terkait pola dan sistem ekonomi dunia saat ini. Negara-negara eropa bahkan menyebut krisis hari ini sebagai kegagalan sistem ekonomi pasar bebas. Upaya untuk mendorong dan mengembalikan masa keemasan “walfare state“-pun terus dilakukan. Bahkan negara-negara Eropa mulai berteriak bahwa seluruh krisis saat ini terjadi karena kebuasan  sistem pasar bebas, dan neo-liberalisme disebut hanya sebuah topeng baru dari kapitalisme.

achsan 2011. 
baca selengkapnya >> The failure of neo-liberalism
Arrange whatever pieces come your way.


Virginia Woolf


baca selengkapnya >>

the amed







 * berdoa tuk selalu diberi kesempatan....
    menjejakkan kaki di tempat-tempat indah 
    mengagumi Kebesaran Tuhan......
    sampai akhir nafas ku.
   
baca selengkapnya >> the amed

mind were meant to sail and travel.....

mind were meant  to sail and travel.....
tulamben , bali - Indonesia

Pages